KARENA PENYESALAN SELALU DATANG DI AKHIR
Oleh : Wahyu
Dwi Kurniawati
X MIA 4/28
Hari
itu senja pagi menyapa Ibu Rosalina dengan senyuman. Secerca harapan kembali
muncul pada dirinya.
”Aku
berharap agar anak-anakku bisa menikmati indahnya bangku sekolah seperti
teman-teman sebayanya,” ucap Ibu Rosalina didalam hatinya.
Semenjak
kematian suaminya satu tahun yang lalu semua terasa sangat berat. Kini Ibu
Rosalina harus berjuang sendiri merawat dan membesarkan ketiga anaknya. Tahun
ini Agus anak sulungnya akan masuk sekolah menengah atas. Sempat harapan Ibu
Rosalina sirna karena beratnya masuk SMA ditambah lagi Agus anak sulungnya
meminta masuk ke SMA favorit di Malang, karena dia belum bisa menerima
keadaanya sekarang. Agus selalu ingin tampil seperti teman-temannya yang memang berasal dari kalangan atas tanpa
memikirkan kondisi ibunya yang susah payah mencari uang. Sifat Aguspun berubah
360 derajat dari sebelumnya, saat kondisi keluarganya bangrut dan ayahnya
meninggal dunia dia menjadi sangat pemarah dan seolah tak peduli lagi dengan
ibu dan adik-adiknya. Sifat Agus tersebut sangat berbeda dengan Andi putra
kedua Ibu Rosalina yang selalu membatu Ibu Rosalina berjualan kue setiap pulang
sekolah untuk menyambung hidup mereka.
Siang
itu Ibu Rosalina dan Andi sedang berjualan dipasar dekat kontrakannya datang
seorang perempuan separuhbaya bernama Ibu Dina menghampiri dagangan Ibu
Rosalina.
“Kue
soes 20buah ada?” tanya Ibu Dina tanpa melihat muka pedagangnya.
“Iya
bu ada, sebentar saya bungkuskan,” jawab Ibu Rosalina. “Alhamdulilah nak,
rejeki hari ini,” ucap Ibu Rosalina kepada Andi.
Sekejap
wajah Ibu Dina berubah saat melihat bahwa yang berjualan itu adalah Ibu
Rosalina sahabat lamanya dulu.
“
Roo… Ro… Rosalina…?Kenapa kamu jualan disini?” tanya Ibu Dina dengan kaget.
Ibu
Rosalna menjawab pertanyaan Ibu Dina dengan senyuman yang menegaskan ini adalah
keadaan dirinya saat ini. Kemudian Ibu Rosalina menceritakan semua yang telah
terjadi pada keluarganya hingga keinginan anaknya Agus yang memaksakan ingin
masuk ke sekolah favorit yang iya inginkan. Ibu Rosalina menceritakan semua itu
dengan mata nanar dan berkaca-kaca . Kemudian Ibu Dina memeluk Ibu Rosalina
dengan sedih dan menawarkan agar Agus anak sulungnya untuk masuk disekolah yang
dia inginkan tanpa dipungut biaya sedikitpun, karena kebetulan sekolah tersebut
adalah milik Ibu Dina. Ibu Rosalina pun merasa sangat senang dan berterimakasih
kepada temanya tersabut. Diapun memberikan
20 biji kue yang dipesan temannya tadi dengan gratis untuk rasa terimakasihnya.
“Terimakasih
untuk semuanya Din, mungkin kue ini tak cukup untuk membayar kebaikan mu
kepadaku,” ucap Ibu Rosalina sambil menatap Ibu Dina.
Ibu
Rosalina dan Andi bergegas membereskan dagangannya dan segera pulang karena tak
sabar ingin memberikan kabar baik ini kepada anak sulungnya Agus. Ibu Rosalina
melangkah menuju kontrakan denga wajah berbinar karena satu masalah kini telah
teratasi.
Agus
dan Niken anak bungsunya yang masih berusia dua tahun sudah menunggu di
kontrakannya.
“ Mamaa…”
teriak Niken keluar rumah dan memeluk Ibunya.
“
Kak Agus mana sayang?” tanya Ibu Rosalina kepada Niken.
Niken
menarik tangan Ibunya menuju Agus yang masih berada di dalam rumah. Belum
sempat Ibu Rosalina masuk rumah dan mengeluarkan sepatah kata apapun, anak sulungnya Agus sudah memaki-maki ibunya
dengan kata-kata kasar yang tak pantas diucapkan ia mengeluarkan semua
amarahnya. Semua tetangga dan orang-orang yang melintas terkejut dengan sifat
Agus yang tidak sopan memperlakukan ibunya tersebut. Laki-laki separuhbaya
melintas dan menasehati Agus agar tidak bersikap seperti itu lagi kepada
ibunya. Namun Agus tak menghiraukan laki-laki separuhbaya tersebut dan
membentaknya agar jangan pernah ikut campur dengan urusannya. Lelaki separuh
baya tersebut hanya bisa mengelus dada melihat sikap Agus kepada Ibunya.
“Kenapa
kamu jadi seperti ini nak, Ibu sudah berusaha sekuat tenaga ibu untuk mencukupi
kebutuhanmu,” ucap Ibu Rosalina sambil menangis.
“Kenapa
kakak jadi seperti ini sama mama?” tanya Andi yang mencoba untuk membela
Ibunya.
“Diam
kamu anak kecil!” jawab Agus dengasn geram dan emosi.”Ini semua gara gara mama!
Dulu papa kena serangan jantung gara gara ulah mama, coba dulu mama gak
selingkuh sama brondong mata duitan itu, pasti sekarang papa masih hidup
keluarga kita pasti juga masih hidup enak! Gak susah kayak gini. Sekarang Agus
pengen masuk ke sekolah yang Agus mau tapi mama juga gak ada uang kan buat
masukin Agus ke sana? Mama itu memang bisanya Cuma bikin hidup orang susah!
Andi benci sama mama!” ucap Agus dengan muka geram memaki ibunya sendiri.
“Iya
mama tau nak, mama salah. Mama juga menyesal telah melakukan itu semua, maaf
kan mama nak. Tapi sekarang mama akan berusaha untuk menebus kesalahan kesalahan
mama. Mama akan berusaha agar kalian anak anak mama bahagia, sekarang mama mau
nebus salalah satu kesalahan mama, bsok kamu bisa masuk ke sekolah yang kamu
mau.” Jawab Ibu Rosalina sambil menangis.
“Telat
ma telat!! Semua udah terjadi. Apa mama bisa buat papa hidup lagi? Apa mama
bisa buat keadaan kita kayak dulu lagi? Gak bisa kan ma! Hahaha syukurlah kalau
mama bisa nyekolahin aku ke sekolah itu, itu kan udah kewajiban mama,” jawab
Agus ketus dengan mamanya.
Ibu
Rosalina pun terus menanggis sambil meminta maaf kepada Agus. Namun Andi Tidak
pernah menghiraukan perkataan Ibu Rosalina itu. Akan tetapi dia keluar dari
rumah sambil membanting gelas yang dibawanya. Ibu Rosalina hanya bisa menanggis
tersedu sedu menyesali perbuatan masalalunya itu sambil memeluk erat anak
bungsunya Niken dan Andi yang ikut menangis ketakutan karena ulah kakaknya.
“Tidak
apa-apa nak, ayo masuk rumah makan siang dulu” ucap Ibu Rosalina untuk
menenangkan kedua anaknya.
Ibu
Rosalina dan kedua anaknya masuk ke dalam kontrakan rumahnya. Ibu Rosalina
berpura-pura tegar agar kedua anaknya tidak membenci Agus setelah meliat
kajadian tersebut.
“mama
ayam goyengnya enak!,mama mau?ayo mama makan ma!” ajak Niken dengan suara polos.
“Iya
nak mama sudah kenyang kamu makan dulu saja,” jawab Ibu Rosalina sambil
tersenyum karena sebenarnya nasi dan lauknya hanya cukup untuk makan
anak-anaknya saja.
Siangpun
berganti menjadi senja, hujan turun membasahi daun-daun dipelataran rumah
kontrakan Ibu Rosalina. Terdengar suara seseorang membuka pintu rumah.
“Agus…?”
tanya ibu sambil menenggok kea rah pintu mencari tau siapa yang masuk.
Agus
tidak menjawab pertanyaan mamanya dan langsung menuju ke kamarnya. Ibu Rosalina
pun mersa sakit hati terhadap kelakuan anaknya tersebut. Semakin hari kelakuan
Agus semakin menjadi jadi Ibu Rosalina tidak bisa menghalang perbuatan anaknya
itu. Beberapa hari kemudian tiba-tiba hidung Ibu Rosalina mengeluarkan darah,
badannya lemas, dengan muka dan bibir yang pucat. Agus anaknya tersebut tidak
menghiraukan keadaan Ibunya itu.
Suatu
hari pada saat Ibu Rosalina sedang menuju ke warung yang ada di dekat kontrakan
rumahnya, tiba-tiba Ibu Rosalina jatuh pingsan. Orang-orang di sekitarnya pun
lansung membawa Ibu Rosalina ke Rumah Sakit terdekat yang ada di kota tersebut.
Ternyata Ibu Rosalina terkena kangker darah stadium akhir. Ibu Rosalina di
rawat di ruangan ICCU. Anak-anak Ibu Rosalina menangis tersedu sedu terutama si
Agus anak sulung Ibu Rosalina.
“Mamaaaa…
kenapa mama tidak pernah bercerita tentang penyakit mama selama ini?” tangis agus sambil memeluk tubuh Ibu Rosalina yang tergeletak tak berdaya
diatas ranjang rumah sakit.
Andi
menyesali semua perbuatannya selama ini. Lalu dia menangis dan memeluk adik-adiknya
yang berada di sampingnya.
Tiba-tiba
terdengar suara “tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttt….,”
dari alat pendeteksi detak jantung.
“Mamaaaaa..!!”
Sontak suara teriakan Agus dan adik-adiknya memecahkan suasana di ruangan
tersebut.
Agus
pun langsung bergegas memanggil dokter untuk melihat kondisi Ibu Rosalina.
Dokter berlari untuk memeriksa kondisi Ibu Rosalina. Tapi ternyata nyawa Ibu
Rosalina tidak tertolong lagi. Tangisan Agus dan adik-adiknya semakin menjadi
jadi. Agus memeluk tubuh Ibu Rosalina yang telah terbujur kaku, dia menagis
meminta maaf kepada Ibu Rosalina.
“Mama..
maafkan Agus perbuatan agus selama ini ma, Agus berjanji akan menjadi anak yang
baik, menghargai orang lain dan bisa mengurus Niken dan Andi ma,” ucap agus
penuh penyesalan.
Senin,
23 Febuari 2016 di pemakaman Tanah Kusir tampak Ibu Dina sahabat lama Ibu
Rosalina menghadiri pemakaman mama Agus. Ibu Dina memeluk anak-anak Ibu
Rosalina untuk menenangkan hati mereka dan Ibu Dina berjanji akan merawat
mereka hingga mereka menjadi orang yang sukses.
----- SELESAI -----

