Sabtu, 12 Maret 2016

Cerpen




KARENA PENYESALAN SELALU DATANG DI AKHIR
Oleh : Wahyu Dwi Kurniawati
X MIA 4/28

Hari itu senja pagi menyapa Ibu Rosalina dengan senyuman. Secerca harapan kembali muncul pada dirinya.
”Aku berharap agar anak-anakku bisa menikmati indahnya bangku sekolah seperti teman-teman sebayanya,” ucap Ibu Rosalina didalam hatinya.
Semenjak kematian suaminya satu tahun yang lalu semua terasa sangat berat. Kini Ibu Rosalina harus berjuang sendiri merawat dan membesarkan ketiga anaknya. Tahun ini Agus anak sulungnya akan masuk sekolah menengah atas. Sempat harapan Ibu Rosalina sirna karena beratnya masuk SMA ditambah lagi Agus anak sulungnya meminta masuk ke SMA favorit di Malang, karena dia belum bisa menerima keadaanya sekarang. Agus selalu ingin tampil seperti teman-temannya  yang memang berasal dari kalangan atas tanpa memikirkan kondisi ibunya yang susah payah mencari uang. Sifat Aguspun berubah 360 derajat dari sebelumnya, saat kondisi keluarganya bangrut dan ayahnya meninggal dunia dia menjadi sangat pemarah dan seolah tak peduli lagi dengan ibu dan adik-adiknya. Sifat Agus tersebut sangat berbeda dengan Andi putra kedua Ibu Rosalina yang selalu membatu Ibu Rosalina berjualan kue setiap pulang sekolah untuk menyambung hidup mereka.
Siang itu Ibu Rosalina dan Andi sedang berjualan dipasar dekat kontrakannya datang seorang perempuan separuhbaya bernama Ibu Dina menghampiri dagangan Ibu Rosalina.
“Kue soes 20buah ada?” tanya Ibu Dina tanpa melihat muka pedagangnya.
“Iya bu ada, sebentar saya bungkuskan,” jawab Ibu Rosalina. “Alhamdulilah nak, rejeki hari ini,” ucap Ibu Rosalina kepada Andi.
Sekejap wajah Ibu Dina berubah saat melihat bahwa yang berjualan itu adalah Ibu Rosalina  sahabat lamanya dulu.
“ Roo… Ro… Rosalina…?Kenapa kamu jualan disini?” tanya Ibu Dina dengan kaget.
Ibu Rosalna menjawab pertanyaan Ibu Dina dengan senyuman yang menegaskan ini adalah keadaan dirinya saat ini. Kemudian Ibu Rosalina menceritakan semua yang telah terjadi pada keluarganya hingga keinginan anaknya Agus yang memaksakan ingin masuk ke sekolah favorit yang iya inginkan. Ibu Rosalina menceritakan semua itu dengan mata nanar dan berkaca-kaca . Kemudian Ibu Dina memeluk Ibu Rosalina dengan sedih dan menawarkan agar Agus anak sulungnya untuk masuk disekolah yang dia inginkan tanpa dipungut biaya sedikitpun, karena kebetulan sekolah tersebut adalah milik Ibu Dina. Ibu Rosalina pun merasa sangat senang dan berterimakasih kepada  temanya tersabut. Diapun memberikan 20 biji kue yang dipesan temannya tadi dengan gratis untuk rasa terimakasihnya.
“Terimakasih untuk semuanya Din, mungkin kue ini tak cukup untuk membayar kebaikan mu kepadaku,” ucap Ibu Rosalina sambil menatap Ibu Dina.
Ibu Rosalina dan Andi bergegas membereskan dagangannya dan segera pulang karena tak sabar ingin memberikan kabar baik ini kepada anak sulungnya Agus. Ibu Rosalina melangkah menuju kontrakan denga wajah berbinar karena satu masalah kini telah teratasi.
Agus dan Niken anak bungsunya yang masih berusia dua tahun sudah menunggu di kontrakannya.
“ Mamaa…” teriak Niken keluar rumah dan memeluk Ibunya.
“ Kak Agus mana sayang?” tanya Ibu Rosalina kepada Niken.
Niken menarik tangan Ibunya menuju Agus yang masih berada di dalam rumah. Belum sempat Ibu Rosalina masuk rumah dan mengeluarkan sepatah kata apapun, anak  sulungnya Agus sudah memaki-maki ibunya dengan kata-kata kasar yang tak pantas diucapkan ia mengeluarkan semua amarahnya. Semua tetangga dan orang-orang yang melintas terkejut dengan sifat Agus yang tidak sopan memperlakukan ibunya tersebut. Laki-laki separuhbaya melintas dan menasehati Agus agar tidak bersikap seperti itu lagi kepada ibunya. Namun Agus tak menghiraukan laki-laki separuhbaya tersebut dan membentaknya agar jangan pernah ikut campur dengan urusannya. Lelaki separuh baya tersebut hanya bisa mengelus dada melihat sikap Agus kepada Ibunya.
“Kenapa kamu jadi seperti ini nak, Ibu sudah berusaha sekuat tenaga ibu untuk mencukupi kebutuhanmu,” ucap Ibu Rosalina sambil menangis.
“Kenapa kakak jadi seperti ini sama mama?” tanya Andi yang mencoba untuk membela Ibunya.
“Diam kamu anak kecil!” jawab Agus dengasn geram dan emosi.”Ini semua gara gara mama! Dulu papa kena serangan jantung gara gara ulah mama, coba dulu mama gak selingkuh sama brondong mata duitan itu, pasti sekarang papa masih hidup keluarga kita pasti juga masih hidup enak! Gak susah kayak gini. Sekarang Agus pengen masuk ke sekolah yang Agus mau tapi mama juga gak ada uang kan buat masukin Agus ke sana? Mama itu memang bisanya Cuma bikin hidup orang susah! Andi benci sama mama!” ucap Agus dengan muka geram memaki ibunya sendiri.
“Iya mama tau nak, mama salah. Mama juga menyesal telah melakukan itu semua, maaf kan mama nak. Tapi sekarang mama akan berusaha untuk menebus kesalahan kesalahan mama. Mama akan berusaha agar kalian anak anak mama bahagia, sekarang mama mau nebus salalah satu kesalahan mama, bsok kamu bisa masuk ke sekolah yang kamu mau.” Jawab Ibu Rosalina sambil menangis.
“Telat ma telat!! Semua udah terjadi. Apa mama bisa buat papa hidup lagi? Apa mama bisa buat keadaan kita kayak dulu lagi? Gak bisa kan ma! Hahaha syukurlah kalau mama bisa nyekolahin aku ke sekolah itu, itu kan udah kewajiban mama,” jawab Agus ketus dengan mamanya.
            Ibu Rosalina pun terus menanggis sambil meminta maaf kepada Agus. Namun Andi Tidak pernah menghiraukan perkataan Ibu Rosalina itu. Akan tetapi dia keluar dari rumah sambil membanting gelas yang dibawanya. Ibu Rosalina hanya bisa menanggis tersedu sedu menyesali perbuatan masalalunya itu sambil memeluk erat anak bungsunya Niken dan Andi yang ikut menangis ketakutan karena ulah kakaknya.
            “Tidak apa-apa nak, ayo masuk rumah makan siang dulu” ucap Ibu Rosalina untuk menenangkan kedua anaknya.
            Ibu Rosalina dan kedua anaknya masuk ke dalam kontrakan rumahnya. Ibu Rosalina berpura-pura tegar agar kedua anaknya tidak membenci Agus setelah meliat kajadian tersebut.
            “mama ayam goyengnya enak!,mama mau?ayo mama makan ma!” ajak Niken dengan suara polos.
            “Iya nak mama sudah kenyang kamu makan dulu saja,” jawab Ibu Rosalina sambil tersenyum karena sebenarnya nasi dan lauknya hanya cukup untuk makan anak-anaknya saja.
            Siangpun berganti menjadi senja, hujan turun membasahi daun-daun dipelataran rumah kontrakan Ibu Rosalina. Terdengar suara seseorang membuka pintu rumah.
            “Agus…?” tanya ibu sambil menenggok kea rah pintu mencari tau siapa yang masuk.
Agus tidak menjawab pertanyaan mamanya dan langsung menuju ke kamarnya. Ibu Rosalina pun mersa sakit hati terhadap kelakuan anaknya tersebut. Semakin hari kelakuan Agus semakin menjadi jadi Ibu Rosalina tidak bisa menghalang perbuatan anaknya itu. Beberapa hari kemudian tiba-tiba hidung Ibu Rosalina mengeluarkan darah, badannya lemas, dengan muka dan bibir yang pucat. Agus anaknya tersebut tidak menghiraukan keadaan Ibunya itu.
Suatu hari pada saat Ibu Rosalina sedang menuju ke warung yang ada di dekat kontrakan rumahnya, tiba-tiba Ibu Rosalina jatuh pingsan. Orang-orang di sekitarnya pun lansung membawa Ibu Rosalina ke Rumah Sakit terdekat yang ada di kota tersebut. Ternyata Ibu Rosalina terkena kangker darah stadium akhir. Ibu Rosalina di rawat di ruangan ICCU. Anak-anak Ibu Rosalina menangis tersedu sedu terutama si Agus anak sulung Ibu Rosalina.
“Mamaaaa… kenapa mama tidak pernah bercerita tentang penyakit mama selama ini?”  tangis agus sambil memeluk tubuh  Ibu Rosalina yang tergeletak tak berdaya diatas ranjang rumah sakit.
Andi menyesali semua perbuatannya selama ini. Lalu dia menangis dan memeluk adik-adiknya yang berada di sampingnya.
Tiba-tiba terdengar suara “tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttt….,” dari alat pendeteksi detak jantung.
“Mamaaaaa..!!” Sontak suara teriakan Agus dan adik-adiknya memecahkan suasana di ruangan tersebut.
Agus pun langsung bergegas memanggil dokter untuk melihat kondisi Ibu Rosalina. Dokter berlari untuk memeriksa kondisi Ibu Rosalina. Tapi ternyata nyawa Ibu Rosalina tidak tertolong lagi. Tangisan Agus dan adik-adiknya semakin menjadi jadi. Agus memeluk tubuh Ibu Rosalina yang telah terbujur kaku, dia menagis meminta maaf kepada Ibu Rosalina.
“Mama.. maafkan Agus perbuatan agus selama ini ma, Agus berjanji akan menjadi anak yang baik, menghargai orang lain dan bisa mengurus Niken dan Andi ma,” ucap agus penuh penyesalan.
Senin, 23 Febuari 2016 di pemakaman Tanah Kusir tampak Ibu Dina sahabat lama Ibu Rosalina menghadiri pemakaman mama Agus. Ibu Dina memeluk anak-anak Ibu Rosalina untuk menenangkan hati mereka dan Ibu Dina berjanji akan merawat mereka hingga mereka menjadi orang yang sukses.

----- SELESAI -----

1 komentar:

  1. OK, terima kasih. Sebelum menunggah, pastikan dulu tidak ada kesalahan, misalnya penulisan dialog, kata sapaan. Ada satu lagi yang fatal --> Ibu Rosalina pun terus menanggis sambil meminta maaf kepada Agus. Namun Andi Tidak pernah menghiraukan perkataan Ibu Rosalina itu. Akan tetapi dia keluar dari rumah sambil membanting gelas yang dibawanya. Ibu Rosalina hanya bisa menanggis tersedu sedu menyesali ... Judul yang Anda buat juga kurang sip, terlalu apa adanya.

    BalasHapus