TUGAS 1 :
TEKS ANEKDOT
Asal ada uang ?
(WAHYU DWI K./28)
Suatu hari ada seorang guru yang
mengingatkan kepada siswanya bahwa ujian nasional sudah dekat.
“Anak-anak, ujian nasional tinggal satu bulan lagi kalian harus belajar dengan rajin agar nilai kalian bagus-bagus.” Ujar seorang guru.
“Siap Bu!” ujar siswa siswa lain.
“Saya malas belajar ah Bu, memangnya nilai sekarang masih penting ya Bu? Setau saya nilai itu sekarang udah gak begitu penting Bu.” Ujar salahsatu murid yang bernama Doni.
“Ya tentunya penting Doni, coba sekarang kalau nilai kamu jelek apa kmu bisa masuk ke sekolah favorit?” jawab sang guru.
“Tapi saya masih gak percaya Bu kalau nilai itu penting, buktinya di luar sana masih ada banyak orang yang nilainya jelek tapi bisa masuk ke sekolah favorit. Bearti nilai itu gak penting dong Bu.” jawab si Doni.
”Iya Bu, benar kata Doni, menurut saya sekarang yang paling penting itu uang.” Sahut siswa lain yang bernama Siska.
“Ya saya setuju sis sama kamu.” Kata si Doni.
“Loh kok bisa uang?.” Jawab sang guru.
“Iya lah Bu, sekarang kan jaman nya udah berbeda Bu. Sekolah tinggal milih aja masuk kemana, setelah itu bilang ke orang tua kita. Terus orang tua kita ke rumah kepala sekolah selesai deh.” Jawab Siska.
“Duh, Siska cara kayak gitu bukan cara yang baik. Memanangnya kamu bangga masuk ke sekolah favorit tapi bukan dari kerja kerasmu sendiri?” jawab sang guru.
“Enggak juga sih Bu” jawab Siska.
“Makanya itu kalian harus belajar dengan giat agar kalian bisa masuk ke sekolah favorit dengan hasil usaha kalian sendiri.” Nasihat Bu guru.
“Baiklah Bu, saya akan belajar dengan rajin agar saya dapat nilai bagus dan bisa masuk ke sekolah favorit dengan hasil usaha saya sendiri.” Ujar si Siska.
“Saya juga gak jadi malas belajar Bu, saya mau belajar rajin aja sama kayak Siska.” Saut si Doni.
“Nah begitu kan bagus.” Ujar guru sambil tersenyum.
Kemudian sang guru pun beralih ke materi pelajaran.
“Anak-anak, ujian nasional tinggal satu bulan lagi kalian harus belajar dengan rajin agar nilai kalian bagus-bagus.” Ujar seorang guru.
“Siap Bu!” ujar siswa siswa lain.
“Saya malas belajar ah Bu, memangnya nilai sekarang masih penting ya Bu? Setau saya nilai itu sekarang udah gak begitu penting Bu.” Ujar salahsatu murid yang bernama Doni.
“Ya tentunya penting Doni, coba sekarang kalau nilai kamu jelek apa kmu bisa masuk ke sekolah favorit?” jawab sang guru.
“Tapi saya masih gak percaya Bu kalau nilai itu penting, buktinya di luar sana masih ada banyak orang yang nilainya jelek tapi bisa masuk ke sekolah favorit. Bearti nilai itu gak penting dong Bu.” jawab si Doni.
”Iya Bu, benar kata Doni, menurut saya sekarang yang paling penting itu uang.” Sahut siswa lain yang bernama Siska.
“Ya saya setuju sis sama kamu.” Kata si Doni.
“Loh kok bisa uang?.” Jawab sang guru.
“Iya lah Bu, sekarang kan jaman nya udah berbeda Bu. Sekolah tinggal milih aja masuk kemana, setelah itu bilang ke orang tua kita. Terus orang tua kita ke rumah kepala sekolah selesai deh.” Jawab Siska.
“Duh, Siska cara kayak gitu bukan cara yang baik. Memanangnya kamu bangga masuk ke sekolah favorit tapi bukan dari kerja kerasmu sendiri?” jawab sang guru.
“Enggak juga sih Bu” jawab Siska.
“Makanya itu kalian harus belajar dengan giat agar kalian bisa masuk ke sekolah favorit dengan hasil usaha kalian sendiri.” Nasihat Bu guru.
“Baiklah Bu, saya akan belajar dengan rajin agar saya dapat nilai bagus dan bisa masuk ke sekolah favorit dengan hasil usaha saya sendiri.” Ujar si Siska.
“Saya juga gak jadi malas belajar Bu, saya mau belajar rajin aja sama kayak Siska.” Saut si Doni.
“Nah begitu kan bagus.” Ujar guru sambil tersenyum.
Kemudian sang guru pun beralih ke materi pelajaran.
Terima kasih. Penulisan dialog masih salah. Kapan-kapan Anda coba baca novel yang berkelas sastra lihat pada bagian dialognya. Penulisan kata sapaan dalam dialog wajib menggunakan huruf kapital. Jangan satu teks satu paragraf.
BalasHapusSudah saya perbaiki pak.
BalasHapus